Andik Irawan, S.Pd.I -Anggota da’i kamtibmas polres Gresik
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bapak ibu, jamaah sekalian yang dirahmati Allah,
Tema kita hari ini adalah hakikat hidup: semua hanyalah ujian — antara SYUKUR dan SABAR.
1. Hidup: Tidak Lebih dari Ujian
Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:
“Kami pasti akan menguji kalian dengan kesusahan dan kesenangan sebagai cobaan.”
(QS. Al-Anbiya: 35)
Miskin ujian. Kaya ujian.
Sehat ujian. Sakit ujian.
Di bawah ujian Allah, tidak ada yang lebih mulia—kecuali ketakwaan dan cara manusia merespons ujian itu.
2. Kisah Dua Anak: Putra Presiden dan Putra Pemulung
Bayangkan ada dua bayi lahir pada hari yang sama.
• Yang pertama: putra presiden, hidup dalam kemewahan.
• Yang kedua: putra pemulung, hidup dalam kesederhanaan yang sangat.
Tapi kedua bayi ini tumbuh dewasa menjadi orang-orang yang berilmu dan beriman.
Putra Presiden – Ujian Syukur
Ia punya fasilitas lengkap, kekayaan berlimpah.
Namun ia tidak sombong, tidak rakus.
Ia memilih menjadi orang yang dermawan, menolong rakyat, membangun sekolah, memakmurkan masjid.
Ia lulus ujian SYUKUR.
Putra Pemulung – Ujian Sabar
Ia hidup sederhana sejak kecil, makan pas-pasan, hidup dengan keterbatasan.
Namun ia tidak iri, tidak dengki. Ia sabar, rajin salat malam, menerima takdir, dan terus berjuang.
Ia lulus ujian SABAR.
Akhirnya…
Ketika keduanya wafat dan berdiri di padang mahsyar, Allah masukkan keduanya ke dalam surga yang sama tingginya.
Kenapa?
Karena yang menetukan derajat bukan keadaan, tapi IMAN.
Bukan miskin atau kaya, tapi bagaimana kita menyikapinya.
3. Hikmah Besar: Kaya & Miskin Sama Saja Jika Dihadapi dengan Iman
Inilah kesimpulan penting bagi kita:
- Kaya yang bersyukur → mulia.
- Miskin yang sabar → mulia.
- Kaya yang sombong → celaka.
- Miskin yang iri → celaka.
Yang membedakan manusia bukan keadaan dunianya, tapi keadaan hatinya.
Allah tidak tanya: “Berapa hartamu?”
Tapi Allah akan tanya:
“Bagaimana engkau mensyukuri atau bersabar atas hartamu?”
4. Kaitan dengan Kamtibmas
Bapak ibu sekalian,
Ketika manusia gagal memahami hakikat hidup sebagai ujian, maka lahirlah kegaduhan sosial:
- Orang kaya yang tidak bersyukur → sombong, korupsi, menindas.
- Orang miskin yang tidak sabar → iri hati, dendam, melakukan kejahatan.
Inilah sumber utama kekacauan Kamtibmas.
Namun ketika masyarakat paham bahwa hidup ini ujian syukur dan sabar:
- Orang kaya menjadi dermawan → menolong tetangga → lingkungan damai.
- Orang miskin menjadi sabar dan tawakal → tidak iri → tidak muncul konflik sosial.
- Setiap orang menjaga diri dari kejahatan karena sadar Allah menguji.
Masyarakat yang memahami nilai syukur dan sabar adalah masyarakat yang tertib, aman, dan damai.
Penutup
Mari kita hadapi hidup bukan dengan nafsu, tapi dengan iman:
• Jika kaya → bersyukur.
• Jika miskin → bersabar.
• Jika diberi kekuasaan → amanah.
• Jika diuji kesulitan → tawakal.
Karena di hadapan Allah, semua kita sama, yang membedakan hanya kualitas iman dan akhlak kita dalam menghadapi ujian.
Semoga kita termasuk hamba yang lulus ujian syukur dan sabar di dunia, dan mendapatkan keamanan di dunia serta keselamatan di akhirat.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.